me n you

me n you

Minggu, 18 Desember 2011

DIARY ANGEL

DIARY ANGEL

Pagi ini begitu cerah. Entah kenapa tiba-tiba aku membenci matahari pagi ini. Matahari itu terlihat elegan dengan senyumannya yang merekah. Aku benci dengan senyuman itu. Atau mungkin dapat di artikan, aku iri dengan senyuman itu. Senyuman dari hati. Senyuman yang dulu juga pernah ku miliki. Dulu. Tidak sekarang. Kini, senyuman yang ku miliki hanyalah senyuman sinis, tatapan ku penuh dengan kebencian, dan suara ku bagai belati yang menusuk setiap hati yang mendengarkannya. Aku benci, aku benci, dan aku benci.
Ku lihat di sekelilingku, kamarku, ahh sebuah ruangan yang tak layak disebut kamar. Hanya ada aku sendiri. Aku dan kebencianku. Tanpa rasa penyesalan. Karena dengan semua kejadian yang telah aku alami, aku jadi tahu, tak ada yang namanya KETULUSAN. Semua ternyata memiliki harga. Harga yang harus ku bayar. Kasih sayang pun tak ada yang gratis. Kini aku di sini sendiri, tak punya cukup banyak hal yang dapat ku jual tuk membeli kasih sayang itu. Namun tak masalah, aku tak lagi membutuhkannya.
Mataku kini tertuju pada sebuah buku kecil berwarna biru, yang dulu menemaniku saat aku masih larut dalam kasih sayang palsu orang-orang disekelilingku. Senyumanku kian sinis melihat buku itu. Buku yang dulu ku sebut DIARY.
Ku raih buku itu, ku buka halaman demi halaman. Senyuman sinis masih merekah di bibir ku, namun senyuman ku kali ini, lebih untuk menertawakan diriku sendiri. Betapa polos dan bodohnya aku saat itu.
.................................................................................................
21 agustus 2008
Dear diary,
Ini lembaran pertama di halamanmu. Mulai hari ini aku kan membagi kisahku bersamamu. Di lembaran pertama ini, aku akan menceritakan siapa aku kepadamu.
Aku Angel. Angel Warna Lestari. Hari ini aku tepat berusia 17 tahun. Aku anak tunggal dari keluarga yang paalliiingg sempurna. Aku punya papa dan mama yang sangat menyayangiku. Meski mereka sibuk dengan bisnis masing-masing, mereka selalu sempat meluangkan waktu bersamaku hampir setiap weekend. Hampir semua kebutuhanku dengan mudah dipenuhi. Papa dan mama memberiku tabungan sendiri yang jumlahnya cukup untuk membeli sebuah mobil mewah dan tabungan itu terus bertambah tiap bulannya. Tapi siapa yang peduli dengan harta ini. Aku sama sekali tak tertarik. Bagiku yang penting adalah aku hidup ditengah orang-orang yang menyayangiku. Aku tak pernah menghambur-hamburkan uang itu. Aku lebih senang berbagi dengan anak-anak jalanan dan panti asuhan. Mereka yang tak memiliki kesempatan merasakan betapa mudahnya mendapatkan suatu barang. Mereka yang tak dapat merasakan kasih sayang dari orang tua.
Aku mahasiswi di Universitas Raflesia. Salah satu universitas swasta di kota ku. Aku mengambil jurusan ilmu komunikasi yang bernaung pada fakultas ISIP. Aku memiliki banyak teman di sini, baik teman satu fakultas maupun fakultas lain bahkan kampus lain. Kampus menjadi tempat yang menyenangkan bagi ku. Apalagi di jurusan yang sama ada Fahri, kakak tingkatku sekaligus kekasihku. Orang yang sangat aku cintai.
Fahri adalah kekasih yang sempurna, dia yang paling bisa mengerti aku, selalu ada di saat aku senang mapun sedih. Dari matanya ku melihat, dia begitu tulus menyayangiku. Dia anugrah terindah bagiku.
Ohya, kamu adalah kado dari Fahri, Fahri bilang bahwa aku bisa menceritakan apa saja yang aku rasakan sama kamu. kamu bagian dari diri Fahri. Di saat Fahri tak ada di sampingku, aku tetap bisa cerita kepadanya lewat kamu, dan dia akan tahu yang aku rasakan. Sebenarnya aku masih bingung, kan sekarang ada handphone, jadi aku bisa aja cerita langsung ke dia meski dia sedang tak berada di sampingku. Tapi, ya sudahlah. Kayaknya asik juga cerita sama kamu. ^_^
Hhaaaa,..aku lelah. Pesta ulang tahun tadi benar-benar melelahkan. Aku istirahat dulu yaa diary. Sampaikan salam sayang aku buat Fahri.
................................................................................................................
Ku menghela nafas panjang. Keluarga sempurna ??? Kemana mereka sekarang ???? Bahkan kini ku membenci keluarga ku.
Fahri. Kenapa aku bisa melupakannya ?? hhaahhh.. kenapa begitu damai saat menyebut namanya. Tak ada sedikitpun kebencian dalam menyebut namanya. Ingin rasanya aku pergi dan menyusulnya. Memeluknya dan menangis di pundaknya, lalu terlelap di pangkuannya.
Kembali ku membuka lembaran-lembaran yang lain. Beberapa halaman ku lewatkan begitu saja.
..................................................................................................................
14 Juli 2009
Sudah seminggu tak bertemu Fahri. Kangen. Fahri sedang mengikuti pertukaran pelajar ke Singapure untuk 1 semester.
......................................................................................
14 Agustus 2009
Fahri plis cepat pulang. Aku sangat membutuhkanmu sekarang. Ku ingin menangis di pelukanmu. Aku tak sanggup menghadapinya sendirian. Aku ingin menceritakan semuanya sama kamu. Aku tak bisa menceritakannya lewat sms ataupun telpon. Plis Fahri, aku benar-benar butuh kamu.
............................................................................................
21 Agustus 2009
Kuatkan hamba ya ALLAH
.......................................................................................
14 Oktober 2009
Papa dan mama resmi bercerai. tubuhku terasa kaku. Aku tak tahu harus memilih tinggal bersama siapa. Aku hancur. Aku tak tahu. Aku bingung. Aku sedih. Mataku makin membengkak. Yang ku miliki sekarang hanya Fahri. Dia yang dari jauh tetap mensupport ku.
Aku kuat.
Aku bisa hadapi semua ini.
Dunia ku belum berakhir.
.........................................................................................
15 Oktober 2009
Fahri tak ada kabar hari ini. Padahal aku sangat membutuhkannya saat ini.
.....................................................................................................
21 Oktober 2009
Aku benar-benar merasa sendiri. Fahri berubah, dia tak lagi peduli padaku. Sudah seminggu dia tak bisa dihubungi. Padahal dia tahu pasti saat ini aku membutuhkannya. Aku benci sama fahri.
Aku benci orang tua ku. Belum genap sebulan mereka menghancurkan hatiku, kini mereka kembali melukainya. Pertama papa, kemudian mama. Mereka telah menikah lagi. Tinggal di rumah masing-masing. Di rumah ini hanya tinggal aku. Yah mereka meninggalkan aku sendiri di sini. Mereka pikir yang aku butuhkan hanya harta mereka. Mereka salah.
.................................................................................................
22 Desember 2009
Apa sih maksud Fahri???. Omelan ku di sms hanya di balas dengan kata “aku sayang kamu selamanya”. Kalau memang sayang, kenapa dia membiarkan ku di sini sendirian?? Bukankah seharusnya dia udah pulang ke sini?? Tak ada penjelasan kenapa dia belum pulang.
..............................................................................................
23 Desember 2009
Hari ini, aku melihatmu tuk yang terakhir kali. Kau terbujur kaku. Kenapa kau tak ceritakan semua nya padaku?? Kenapa kau tak membagi sakitmu padaku. Kenapa kau tak biarkan aku bersamamu di detik-detik terakhirmu??
Ibu mu telah menceritakan segalanya. Vonis dokter yang kau dengar tepat di hari ulang tahunku tahun lalu.
Bagaimana bisa kau datang ke pesta ku seolah tak terjadi apa-apa?
Apakah karena itu kau memberiku Diary ini, dan mengatakan aku tetap bisa cerita kepadamu lewat diary ini saat kau tak bisa berada di sampingku, dan kau akan tahu yang aku rasakan???
Bagaimana bisa kau membohongiku dan mengatakan kau pergi ke Singapure, padahal sebenarnya kau tetap di kota ini??
Bagaimana bisa kau sempat membalas sms ku di saat kau tengah menjalani kemo terapi??
Bagaimana bisa kau menghiburku dan menguatkanku di saat kau kritis??
Mengapa kau begitu peduli padaku?
Mengapa kau tak memberiku kesempatan melakukan hal yang sama??
Bahkan kau tak memberiku kesempatan mengatakan, aku saiank kamu Fahri.
ANGEL SAIANK FAHRI SELAMANYA.
......................................................................................
21 Agustus 2010
Heeii diary,
Sepertinya aku telah lama tak menulis. Ahahhaha, kita ketemu lagi. Udah hampir setahun aku tak bercerita kepadamu. Aku tadi tak sengaja melihat mu ditumpukan buku-buku kuliahku dulu. Dulu?? Yaaa... aku kini sudah tak kuliah lagi. Udah wisuda?? Ahh yang benar saja,.. untuk apa aku kuliah?? Untuk cari kerja?? Untuk apa aku kerja?? Toh harta orang tua sudah melimpah.
Hari ini aku ulang tahun. Aku rayakan bersama kekasih dan sahabat-sahabatku. Di rumahku. Pesta meriah?? Ga juga,. Tapi cukup buat aku merasa have fun.
Aku ANGEL. Bukan lagi Angel yang dulu. Hidupku kini kelam. Entah sudah berapa banyak drugs yang ku masukkan ke tubuhku. Drugs yang kata mereka akan membunuhku. Tapi siapa yang peduli tentang hal itu. Siapa yang peduli tentang hidup?? Yang penting saat ini aku bahagia.
Dea, dia sahabat ku sekarang. Orang yang telah membawaku ke dunia yang tanpa aturan ini. Hahhahha.. Dimas, pacarku. Hahh, dia yang membuatku tambah parah. Tapi aku nikmati semua ini.
By the way, hari gini masih nulis di diary??? Hmm.. maf ya diary kayaknya terakhir nih aku cerita ke kamu. Tensin bangetkan kalau sampai teman-temanku tahu aku masih nulis diary, kayak anak kecil aja.
Byeeee...
............................................................................
Dea, Dimas. 2 orang yang kini sangat ku benci. Aku masih ingat penggrebekan setahun yang lalu. Saat kami bertiga sedang “makai” di sebuah hotel. Aku sedang benar-benar kacau saat itu. Dimas dan Dea berhasil kabur, dan meninggalkan ku sendiri. Tertangkap, tak berdaya.
Papa yang mengurus ke kepolisian. Entahlah, sepertinya semua beres dengan uang. Hmm..karena kejadian itu, jadilah aku berada di sini. PANTI REHABILITASI. Di suatu pinggiran kota. Yang pada akhirnya aku tahu, papa tak ingin rekan bisnisnya tahu bahwa aku adalah anaknya. Begitu juga mama. Aku telah hampir setahun di sini, tak sekali pun orang tua ku mengunjungiku. Dan aku pun tak berharap mereka mengunjungiku.
Dimas dan Dea, 2 penghianat dalam hidupku. Kabar terakhir yang ku dengar mereka telah menikah, karena Dea hamil anak Dimas. Entah sejak kapan mereka berdua menghianatiku. Aku Cuma dijadikan bank bagi mereka. Yang dapat melengkapi kebutuhan mereka. Teman-temanku yang lain pun ikut menghilang. Tak mungkin mereka tak tahu aku di sini. Yaahhh, tak ada lagi yang dapat di manfaatkan dari aku. Aku tak lagi bergelimang harta.
Aku benci semua orang.
Aku kangen sama Fahri.
Ku ambil pulpen dalam laci meja di dekatku, Ku buka lembaran-lembaran kosong dalam diary ku. Dan kulis semuanya dengan kata-kata “ANGEL SAIANK FAHRI, ANGEL KANGEN FAHRI, ANGEL INGIN BERSAMA FAHRI”
Dan pada lembar terakhir ku tulis dengan darah yang mengalir dari nadi ku.
............................................................................


ANGEL WARNA LESTARI
Lahir : 21 Agustus 1991
Wafat : 21 Agustus 2011
THE END
.............................................................................................

By.
Tari widyanita
8 desember 2011