me n you

me n you

Sabtu, 20 September 2014

kamu

yaa.. kamu. kamu yg tiba2 mengingatkan ku pada blog ini. kamu yg tiba2 membahas sesuatu yg ku tulis dimasa lalu. tentang sebuah cerpen yg dulu pernah q tulis. tentang sebuah panggilan dalam sebuah cerpen. berasa aneh ditelingaku. apa setiap cerpen yg q tulis harus brasal dri kisahku? panggilanku? bagaimana dngan cerpen yg lain? bagaimana dngan cerpen kematianku? apa itu jg aq angkat dri kisah hidupku? kamu aneh. kamu tak perlu begitu. kamu tak perlu mmbuat seolah2 aq masih mncintai masalalu ku. seolah2 aq sama denganmu. seolah2 aq pnghianat. aq bukan kamu. kamu, yaa kamu. tak perlu begitu. kita tak hidup di masalalu.

Minggu, 01 Januari 2012

Raga, Hati dan Logika

26/12/2011

Hatiku mengatakan untuk tetap memperjuangkannya, namun Logikaku mengatakan untuk melepaskannya. Aku bingung untuk mengikuti siapa. Mengikuti sang Hati yang bodoh atau mengikuti sang logika yang angkuh. Hati hanya ingin bahagia, namun rentan akan terluka. Logika hanya ingin melindungi hati agar tak terluka. Logika sangat menyayangi Hati. Namun Hati terlanjur sangat mencintai Cinta. Hati tak lagi perduli dengan luka yang akan dirasakannya nanti bila tetap memperjuangkan Cinta. Logika tetap bersikukuh untuk melepaskan Cinta, meski sampai sekarang Logika selalu di kalahkan oleh Hati. Yah, Logika terlalu memanjakan Hati, Logika tak pernah sanggup menolak permintaan Hati. Namun, Hati terus terluka karena memperjuangkan Cinta. Melihat Hati yang semakin terluka, Logika merasa, “sudah cukup”, semua harus diakhiri.
Aku ingin mendamaikan Hati dan Logika. Namun,perbedaan keinginan mereka membuatku tag dapat berbuat apa-apa. Mana yang harus aku ikuti?? Hati atau Logika??

.........................................................

28/12/2011

Dear Cinta,
Aku Raga. Raga tempat Hati dan Logika bernaung. Terimakasih Cinta, kau telah membantu aku memilih. Aku kan mengikuti saranmu untuk memilih Logika. Selamat tinggal Cinta, karena kami akan melepasmu.
Terimakasih tuk semua yang telah kau berikan padaku. Kenangan, kebaikanmu, kelembutanmu, perlindunganmu, perhatianmu, waktumu, ceritamu, dan motivasi mu.

.........................................................

28/12/2011

Dear Cinta,
Aku Logika. Aku adalah Logika yang menjadi stres karenamu, aku adalah logika yang merasa kau telah mempermainkan sang Hati. Kau tahu, aku sangat membencimu. Kau dengan beraninya menyakiti Hati yang selama ini ku jaga. Seribu caci maki ingin ku tumpahkan padamu.
Aku merasa menang saat kau menyarankan sang raga untuk memilih aku. Aku merasa benar semua yang selama ini aku pikirkan. Kau hanya mempermainkan Hati. Mulai sekarang aku akan selalu memperingatkan Hati jika kau telah memilihku. Aku tahu cara ku akan sangat menyakiti Hati, karena Hati akan selalu ingat bahwa dia tak diinginkan olehmu. Namun, aku harus lakukan ini. Agar dia tak lagi mengharapkanmu.
Aku pikir, kau akan senang jika Hati tak lagi mengharapkanmu. Kau tahu Cinta, suatu saat kau akan menyesal telah memilih aku. Karena kau tak kan lagi menemukan hati yang setulus Hati.

............................................................

28/12/2011

Dear Cinta,
Aku hati. Akulah hati yang mencintaimu. Akulah hati yang tanpa sengaja kau sakiti. Cinta, saat raga bertanya untuk mengikuti ku atau sang Logika, mengapa kau lebih memilih Logika?? Mengapa kau menginginkan raga tuk melepaskanmu?? Kau tahu, aku sakit mendengar itu. Aku, raga, dan Logika adalah satu. Saat kau meminta raga melepaskanmu, itu sama saja meminta aku melepaskanmu.
Aku ingin mengabulkan permintaanmu, tapi aku tak tahu bisa melakukannya atau tidak. Namun, aku juga cukup tahu diri jika tak lagi diinginkan. Aku merasa sempurna. Aku merasa telah sempurna mencintaimu. Hati. Aku adalah sumber ketulusan, dan semua ketulusanku telah ku persembahkan tuk mencintaimu. Tag diinginkan merupakan kenyataan pahit yang harus aku hadapi.
Cinta, jika memang itu maumu, aku kan melepasmu. Atau mungkin bolehkah aku menawar?? Jika aku tak dapat melepaskanmu, bolehkah aku berpura-pura telah melepaskanmu?? Aku janji tak akan mengganggumu. Izinkan aku tetap mencintaimu secara diam-diam. setidaknya sampai aku benar-benar bisa melepasmu.